
Gresik – Tren hujan mikroplastik yang sebelumnya ramai ditemukan di kota-kota besar Indonesia kini terungkap juga di wilayah Gresik. Himpunan Mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (HMPK3) Universitas Sunan Gresik bersama tim riset Ecoton merilis hasil temuan awal yang menunjukkan adanya partikel mikroplastik pada seluruh sampel air hujan yang mereka teliti.
Pengambilan sampel dilakukan pada 16–19 November 2025 di empat titik berbeda: Wringinanom, Bunder, Gresik Kota Baru (GKB), dan Manyar. Sampel dihimpun saat hujan berlangsung, lalu dianalisis secara visual di laboratorium Ecoton untuk mengidentifikasi bentuk dan jenis partikelnya.
Temuan ini merupakan bagian dari penerapan materi Kesehatan Lingkungan sekaligus respons terhadap kekhawatiran publik setelah laporan ECOTON sebelumnya mengungkap kehadiran mikroplastik dalam air hujan di Surabaya, Malang, hingga Jakarta.
Analisis awal menunjukkan seluruh sampel air hujan di Gresik mengandung mikroplastik dengan rincian:
- Wringinanom: 12 partikel/liter (10 fiber, 2 fragmen)
- GKB: 18 partikel/liter (8 fiber, 7 fragmen, 3 filamen)
- Bunder: 21 partikel/liter (18 fiber, 3 fragmen)
- Manyar: 25 partikel/liter (19 fiber, 5 fragmen, 5 filamen)
Angka tersebut menunjukkan paparan mikroplastik di udara Gresik cukup tinggi. Aktivitas pembakaran sampah secara terbuka diduga menjadi salah satu sumber penyumbang partikel yang kemudian terbawa angin dan turun bersama air hujan, apalagi beberapa hari terakhir curah hujan di Gresik tergolong tinggi.
Ayu Sakinah Putri Arrochman, penggagas kegiatan sekaligus mahasiswi K3 Universitas Sunan Gresik, mengungkapkan bahwa temuan ini berawal dari kekhawatirannya terhadap bahaya mikroplastik bagi kesehatan.
“Saya tergerak setelah mengetahui bahaya mikroplastik terhadap hormon dan organ tubuh. Dari rasa penasaran itu, saya bersama HMPK3 mengambil sampel untuk mengetahui kondisi di sekitar kampus. Hasil awal membuktikan bahwa seluruh sampel air hujan sudah mengandung mikroplastik. Ini penting sebagai dasar sebelum kami menyusun rekomendasi kesehatan lingkungan. Mahasiswa harus memahami sumber dan jenis pencemaran agar solusi yang diusulkan benar-benar berbasis data,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menindaklanjuti isu mikroplastik nasional sekaligus memperkuat literasi mahasiswa terkait kesehatan lingkungan. Para peneliti berharap temuan tersebut dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa, komunitas lingkungan, hingga masyarakat luas mengenai bahaya mikroplastik yang kini mengancam lewat udara dan hujan.
Mereka juga mendorong lembaga pendidikan, organisasi lingkungan, dan pemerintah daerah untuk memperketat pemantauan kualitas udara serta memperbaiki pengelolaan sampah agar tidak lagi menjadi sumber polusi mikroplastik yang berdampak pada kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.





