
Manggarai Barat – Tim Pencegahan Satgaswil NTT Densus 88 AT Polri kembali turun ke sekolah untuk memperkuat literasi pelajar terhadap bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, terorisme (IRET), bullying, serta penyimpangan seksual di ruang digital. Kali ini, sosialisasi digelar di SMP Negeri 02 Lembor, diikuti 295 siswa dan jajaran guru.
Kepala Sekolah, Yosef Hismat Manase, S.Pd., menilai kolaborasi ini sebagai langkah penting dalam memperluas wawasan pelajar.
“Ini pertama kalinya sejak sekolah berdiri kami bekerja sama langsung dengan Tim Pencegahan Densus 88,” ujarnya.
Materi inti disampaikan IPTU Silvester Guntur, S.H., M.M., yang menekankan bahwa terorisme bukan sekadar aksi bom, tetapi serangan terhadap rasa aman dan persatuan.
“Aksi teror bertujuan menanamkan ketakutan,” tegasnya.
Ia menyoroti kemudahan akses internet yang membuat pelajar rentan terhadap konten negatif. Data Cyber Patrol 2024–2025 menunjukkan masih maraknya propaganda ekstrem di ruang digital, dengan ribuan konten radikal dan akun terindikasi aktif menyebarkan narasi kekerasan.
Menurut IPTU Silvester, remaja adalah kelompok paling rentan karena sedang mencari jati diri dan aktif di media sosial. Narasi ekstrem, katanya, kerap hadir dalam bentuk ringan seperti video pendek, e-book, hingga quote motivasi.
“Radikalisasi tidak terjadi tiba-tiba. Ia dimulai dari intoleransi, lalu meningkat menjadi ekstremisme hingga terorisme,” jelasnya.
Sesi kemudian berlanjut ke materi bullying dan kekerasan seksual. Ia mengingatkan bahwa kedua perilaku ini bisa menimbulkan trauma mendalam dan menjadi pintu masuk bagi kelompok radikal untuk merekrut korban.
“Korban bullying adalah target empuk karena kehilangan kepercayaan diri dan mudah dibujuk,” ujarnya.
Untuk membentengi diri, ia mendorong siswa menguatkan empat pilar kebangsaan dan empat pilar ketahanan pelajar: kesadaran diri, wawasan digital, daya kritis, dan karakter kebangsaan.
Diskusi berlangsung interaktif. Siswa menanyakan cara mengatasi bullying, pencegahan terorisme di pelosok, hingga dampak kekerasan seksual. IPTU Silvester menegaskan pentingnya sinergi semua pihak—pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat.
“Gunakan literasi kebangsaan untuk memperkuat jiwa muda,” pesannya.




