
BLORA – Di tengah duka akibat bencana tanah longsor yang melanda Kampung Nglajo RT 04/RW 08, Kelurahan Cepu, semangat warga untuk menjaga tradisi leluhur tidak pernah surut. Masyarakat tetap menggelar Tradisi Sedekah Bumi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Giri Nglajo, Jumat (24/7/2026), sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus doa bersama bagi para leluhur serta harapan agar kehidupan masyarakat segera pulih pascabencana.
Tradisi yang dipimpin Sugiyanto tersebut berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan. Sejak pagi, ratusan warga memadati lokasi untuk mengikuti seluruh rangkaian acara. Hadir dalam kegiatan itu Camat Cepu Rajiman, S.IP., M.Si., Lurah Cepu Sumiyati, S.Sos., Kapolsek Cepu AKP Edi Santosa, S.H., M.H., personel Koramil Cepu, jajaran LBH Kinasih, Kuasa Hukum Warga Korban Bencana Darda Syahrizal, S.H., M.H., tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Meski masih berada dalam suasana pemulihan pascabencana longsor, kondisi tersebut tidak menyurutkan tekad masyarakat untuk melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Bagi warga, Sedekah Bumi bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, serta ikhtiar memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan tahlil di area pemakaman, dilanjutkan prosesi Sedekah Bumi yang berlangsung penuh kekhusyukan. Suasana religius berpadu dengan semangat pelestarian budaya yang masih kuat dijaga masyarakat setempat.
Perayaan semakin semarak dengan penampilan seni budaya khas Blora, seperti tarian tradisional, kesenian Barongan, hingga penampilan komunitas Sedulur Sikep (Suku Samin). Berbagai atraksi tersebut menjadi simbol kekayaan budaya lokal sekaligus mempertegas komitmen masyarakat dalam menjaga warisan leluhur di tengah perkembangan zaman.
Sugiyanto selaku pemimpin prosesi Sedekah Bumi mengatakan, kehadiran Sedulur Sikep pada perayaan tahun ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap komunitas adat yang hingga kini masih konsisten menjaga nilai-nilai budaya, kerukunan, serta kehidupan bertani.
“Dalam Sedekah Bumi tahun ini kami sengaja menampilkan budaya masyarakat Blora, khususnya Sedulur Sikep atau Suku Samin. Mereka merupakan sosok para among tani yang sampai hari ini tetap mempertahankan keunikan dalam kehidupan bermasyarakat, menjunjung tinggi kerukunan, menjaga silaturahmi, serta tetap berpegang teguh pada pertanian sebagai bagian dari kehidupan mereka,” ujar Sugiyanto.
Menurutnya, Sedulur Sikep merupakan salah satu komunitas yang masih eksis mempertahankan identitas budaya sekaligus menjadi teladan dalam menjaga ketahanan pangan melalui sektor pertanian.

“Sedulur Sikep menjadi salah satu komunitas yang hingga kini masih mempertahankan kebudayaannya. Mereka identik dengan kehidupan yang rukun, menjunjung tinggi nilai budaya, dan tetap setia mengembangkan pertanian sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan. Nilai-nilai inilah yang ingin kami angkat melalui pelaksanaan Sedekah Bumi tahun 2026,” katanya.
Sugiyanto berharap masyarakat dapat mengambil hikmah dari pelaksanaan Sedekah Bumi, terutama pentingnya menjaga kerukunan, mempererat silaturahmi, serta menguatkan ketahanan pangan melalui sektor pertanian.
“Kami berharap seluruh masyarakat dapat mengambil hikmah dari pelaksanaan Sedekah Bumi ini, yakni pentingnya menjaga kerukunan, mempererat hubungan silaturahmi, serta terus mempertahankan ketahanan pangan dengan menggalakkan sektor pertanian. Semoga nilai-nilai tersebut terus hidup dan menjadi pedoman bagi generasi mendatang,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Sugiyanto juga menyampaikan apresiasi kepada LBH Kinasih yang selama ini aktif memberikan pendampingan hukum kepada masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada LBH Kinasih yang selalu mendampingi masyarakat, terutama dalam memberikan wawasan dan pembinaan hukum. Pendampingan tersebut sangat bermanfaat bagi kami, baik dalam pengelolaan TPU, pelaksanaan kegiatan kemasyarakatan, maupun dalam menjalankan tugas sebagai koordinator penanganan bencana dan Ketua RT. Berkat pembinaan yang diberikan, kami memahami koridor hukum sehingga setiap langkah yang kami lakukan dapat berjalan sesuai aturan dan tidak menyimpang dari ketentuan yang berlaku,” tuturnya.

Sementara itu, Lurah Cepu Sumiyati mengatakan Tradisi Sedekah Bumi merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan karunia yang diberikan. Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan memperkokoh kebersamaan masyarakat.
“Sedekah Bumi bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat tali silaturahmi dan semangat gotong royong di tengah masyarakat. Kehadiran seluruh elemen masyarakat dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan masih terpelihara dengan baik. Kami berharap tradisi ini tetap lestari dan menjadi warisan budaya yang terus diteruskan kepada generasi mendatang,” ujar Sumiyati.
Kehadiran unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), aparat keamanan, pemerintah kelurahan, hingga LBH Kinasih menunjukkan sinergi yang kuat dalam mendukung pelestarian budaya sekaligus memberikan semangat kepada warga yang sedang bangkit dari musibah longsor.
Di sisi lain, Kuasa Hukum Warga Korban Bencana, Darda Syahrizal, S.H., M.H., menilai Sedekah Bumi bukan hanya tradisi tahunan, tetapi juga menjadi ruang mempererat persaudaraan, memperkuat semangat gotong royong, dan membangun optimisme masyarakat dalam menghadapi proses pemulihan pascabencana.
“Tradisi seperti ini harus terus dijaga karena merupakan warisan budaya yang memiliki nilai luhur. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sedekah Bumi juga menjadi momentum memperkuat persatuan, kebersamaan, dan kepedulian sosial antarwarga. Di tengah musibah longsor, semangat masyarakat untuk tetap menjaga tradisi patut diapresiasi karena menunjukkan keteguhan dan kekuatan kebersamaan,” ujar Darda.
Darda juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran Camat Cepu Rajiman dan Lurah Cepu Sumiyati dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran kedua pejabat yang baru menjabat itu membawa harapan baru bagi masyarakat korban bencana.
“Saya mengapresiasi kehadiran Pak Camat dan Ibu Lurah. Kehadiran mereka menunjukkan kepedulian dan menjadi bukti bahwa pemerintah hadir di tengah masyarakat. Semoga ini menjadi awal terbangunnya komunikasi yang lebih baik serta mampu mengobati perasaan warga yang sebelumnya merasa kurang mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kecamatan Cepu dan Kelurahan Cepu,” kata Darda.
Ia turut memberikan apresiasi kepada jajaran Polri yang sejak awal dinilai sigap mendampingi masyarakat saat bencana longsor terjadi.
“Sejak awal musibah longsor terjadi, masyarakat merasakan kehadiran Polri yang bergerak cepat. Kapolres Blora beserta jajarannya dan Kapolsek Cepu AKP Edi Santosa bersama anggotanya hadir memberikan bantuan, rasa aman, serta semangat kepada warga. Kini, dengan hadirnya Pak Camat dan Ibu Lurah dalam kegiatan ini, kami berharap sinergi pemerintah bersama TNI, Polri, dan seluruh elemen masyarakat semakin kuat sehingga proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan menyeluruh,” tegas Darda.
Sebagai kuasa hukum masyarakat korban bencana, Darda menegaskan LBH Kinasih akan terus mengawal hak-hak warga hingga proses pemulihan pascabencana berjalan secara adil dan berpihak kepada masyarakat. Menurutnya, warga tidak hanya membutuhkan bantuan sesaat, tetapi juga kepastian mengenai keamanan lingkungan, pemulihan kehidupan, serta perhatian pemerintah hingga seluruh persoalan yang dihadapi benar-benar terselesaikan.
Acara ditutup dengan suasana penuh keakraban dan berlangsung aman serta kondusif. Warga berharap Tradisi Sedekah Bumi di TPU Giri Nglajo dapat terus dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Blora sekaligus menjadi perekat persatuan lintas generasi. Semangat masyarakat yang tetap menggelar tradisi di tengah cobaan menjadi bukti bahwa nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan kearifan lokal akan terus hidup serta diwariskan kepada generasi mendatang.








