
Suluh Timur | Manggarai
Ancaman radikalisme kini tak lagi hadir lewat pertemuan rahasia atau ceramah tertutup. Kelompok radikal mulai menyasar anak-anak melalui ruang digital, termasuk game online yang akrab dimainkan remaja setiap hari.
Kondisi itu menjadi perhatian serius Densus 88 AT Polri. Melalui Tim Cegah Satgaswil NTT, mereka turun langsung memberikan edukasi kepada 240 anak dari 24 desa di Kabupaten Manggarai, Rabu (7/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Pusat Spiritualitas Efata Santo Aloysius Ruteng itu menyasar pelajar SMP dan SMA dari Kecamatan Ruteng, Rahong Utara, dan Cibal.
Dalam sosialisasi tersebut, anggota Densus 88, Iptu Silvester Guntur, mengungkap pola baru perekrutan kelompok radikal yang kini memanfaatkan internet dan permainan daring.
“Dulu perekrutan dilakukan secara langsung. Sekarang mereka masuk lewat media digital, termasuk game online,” kata Silvester di hadapan peserta.
Ia menyebut game populer seperti Free Fire dan Roblox kerap digunakan untuk membangun kedekatan dengan calon korban.
Menurutnya, proses perekrutan biasanya dimulai dari bermain bersama, lalu berlanjut ke grup percakapan tertutup tempat doktrinasi dilakukan secara perlahan.
“Awalnya hanya bermain game bersama. Lama-lama dibuat grup, lalu mulai dimasukkan ideologi dan gagasan radikal,” ujarnya.
Silvester mengatakan anak-anak menjadi target empuk karena masih mudah dipengaruhi dan dibentuk pola pikirnya. Yang lebih berbahaya, proses tersebut sering berlangsung tanpa disadari korban maupun orang tua.
Dalam pemaparannya, ia juga mengungkap data yang cukup mengkhawatirkan. Saat ini, sekitar 110 anak di Indonesia disebut telah terpapar paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET). Dari jumlah itu, sekitar 70 anak dikabarkan telah bergabung dengan kelompok radikal bernama True Crime Community.
Suasana diskusi berlangsung interaktif. Ketika Silvester menanyakan siapa yang sudah memiliki telepon genggam, hampir seluruh peserta mengangkat tangan. Hanya sekitar 10 anak yang mengaku belum memiliki handphone.
Sementara saat ditanya soal game online, sepertiga peserta mengaku aktif bermain menggunakan gadget mereka.
Meski begitu, Silvester menegaskan bermain game bukanlah sesuatu yang salah. Namun, anak-anak harus memahami bahwa dunia digital juga menyimpan ancaman serius.
“Game itu menyenangkan, tapi harus bijak menggunakan handphone. Ada bahaya yang mengintai,” katanya.
Dalam sesi edukasi, Silvester juga menjelaskan tahapan yang sering menjadi pintu masuk radikalisme, mulai dari intoleransi hingga terorisme.
Ia menjelaskan intoleransi muncul dari sikap tidak menghargai perbedaan pandangan, agama, budaya, maupun identitas orang lain. Jika terus dipupuk, sikap itu dapat berkembang menjadi radikalisme dan ekstremisme.
“Kaum radikal biasanya merasa paling benar, menolak perbedaan, memusuhi pihak lain, bahkan membenarkan kekerasan demi tujuan ideologis,” jelasnya.
Selain risiko terorisme, ia mengingatkan anak-anak yang terpapar kelompok radikal juga rentan terjerumus dalam berbagai tindak kriminal lain seperti narkoba hingga eksploitasi anak.
Di akhir kegiatan, Silvester menekankan pentingnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas digital anak.
“Histori pencarian internet anak perlu diperiksa. Jangan sampai mereka mengakses situs berbahaya seperti pornografi, judi online, maupun konten radikal,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Manggarai dengan Wahana Visi Indonesia sebagai bagian dari upaya perlindungan anak dari ancaman dunia digital.





