
Bojonegoro – Duka menyelimuti Kabupaten Bojonegoro. Seorang balita, Adik Darel (1,5), yang selama lebih dari satu tahun berjuang melawan penyakit langka atresia bilier, meninggal dunia pada Selasa, 7 April 2026, sekitar pukul 16.00 WIB di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.
Kepergian Darel meninggalkan kesedihan mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat yang selama ini mengikuti perjuangannya. Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan keceriaan, Darel justru harus menghadapi kondisi medis serius yang terus menggerogoti kesehatannya.
Ayah Darel, Riadi, mengungkapkan bahwa kondisi sang anak sempat mengalami penurunan drastis sehari sebelum wafat. Pada Senin, fungsi ginjal Darel dilaporkan tinggal sekitar 28 persen. Selain itu, ia juga mengalami gangguan pernapasan serta pembengkakan perut akibat komplikasi penyakit.
“Kondisinya sudah sangat kritis. Tubuhnya sudah tidak mampu lagi melawan,” ujar Riadi dengan suara bergetar.
Di tengah duka, Riadi juga menyampaikan kekecewaannya terhadap janji yang sempat diberikan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Kesehatan. Ia menyebut, rencana rujukan ke RSCM Jakarta yang sebelumnya dijanjikan tidak pernah terealisasi.
“Dulu dijanjikan mau dibawa ke RSCM Jakarta, tapi sampai Darel meninggal, itu hanya wacana,” tambahnya.
Jenazah Darel diberangkatkan dari RSUD Dr. Soetomo selepas Magrib dan tiba di rumah duka sekitar pukul 21.00 WIB. Dalam suasana haru, jenazah langsung disucikan sebelum dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Karangdowo, Kecamatan Sumberejo, Bojonegoro.
Tangis keluarga pecah saat prosesi berlangsung. Kedua orang tua Darel tampak terpukul atas kepergian anak semata wayang mereka, setelah melalui perjuangan panjang yang penuh harapan.
Kekecewaan juga disampaikan oleh relawan dan tim pendamping hukum yang selama ini mengawal kasus Darel. Direktur Yayasan Laskar Kinasih Indonesia sekaligus pengacara/advokat, Darda Syahrizal, secara tegas menyayangkan lambatnya respons Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
“Kami sudah melaporkan dan mengajukan masalah ini ke Pemkab Bojonegoro pada 22 Desember 2025. Namun sampai Darel meninggal dunia, belum ada penanganan yang nyata,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Takin dari Kinasih Peduli yang menilai respons pihak terkait tidak sebanding dengan urgensi kondisi Darel yang terus memburuk.
“Kami sudah berupaya mendorong percepatan penanganan, tapi responsnya tidak secepat yang diharapkan,” ungkapnya.
Bahkan, saat kabar duka datang, ia mengaku memilih tidak merespons sejumlah pesan dari Dinas Kesehatan Bojonegoro sebagai bentuk kekecewaan mendalam.
Kepergian Adik Darel bukan sekadar kehilangan satu nyawa, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya kecepatan respons, kepedulian, dan tanggung jawab bersama dalam penanganan kasus medis kritis, khususnya pada anak-anak dengan penyakit langka.
Kini, perjuangan Darel telah usai. Namun kisahnya akan tetap hidup, menjadi pengingat sunyi agar tidak ada lagi anak-anak yang harus berjuang sendirian melawan penyakit berat.




