
Blora – Kesal karena jalan rusak tak kunjung diperbaiki, sekelompok warga dari sejumlah desa di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, berinisiatif melakukan penambalan jalan berlubang secara swadaya. Aksi gotong royong itu dilakukan demi mencegah kecelakaan yang kerap terjadi di jalur padat kendaraan tersebut.
Warga yang terlibat berasal dari Desa Gadon, Desa Cabean, Desa Kentong, dan Desa Mulyorejo. Kegiatan tersebut juga dihadiri Kepala Desa Mulyorejo, Segiyono. Mereka patungan mengumpulkan dana dan material untuk memperbaiki ruas jalan rusak sepanjang hampir satu kilometer.
Perbaikan difokuskan di jalan utama yang membentang dari Desa Mulyorejo, melintasi Kelurahan Tambakromo, hingga depan Kantor Kecamatan Cepu. Jalur tersebut merupakan akses penghubung Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dengan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sehingga setiap hari dipadati kendaraan.
Salah satu perwakilan warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, aksi itu muncul karena kondisi jalan yang dipenuhi lubang dalam dinilai sudah sangat membahayakan pengguna jalan.
“Sudah sering ada pengendara jatuh. Bahkan ada yang luka parah sampai meninggal dunia karena menghindari lubang. Banyak warga akhirnya memilih memutar lewat jalan lain yang lebih bagus,” ujarnya saat ditemui awak media, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, ide perbaikan jalan muncul secara spontan dari obrolan warga yang kerap berkumpul di sebuah warung.
“Karena kasihan melihat kondisi jalan, akhirnya muncul inisiatif, ‘ayo didandani dewe ae’ atau ayo diperbaiki sendiri saja,” katanya.
Seluruh proses perbaikan dilakukan secara gotong royong menggunakan dana murni swadaya masyarakat. Pengerjaan dilakukan pada malam hari, Minggu (23/5/2026), mulai pukul 21.00 hingga 23.15 WIB agar tidak mengganggu arus lalu lintas.
Dengan peralatan sederhana seperti cangkul, sekop, dan arko, warga menutup lubang menggunakan campuran semen dan koral secara manual.
“Kami cor manual memakai semen dan koral sendiri, lalu diratakan pakai pacul dan sekop seadanya supaya padat,” lanjutnya.
Berkat kerja bakti tersebut, titik-titik jalan yang paling parah dan dinilai membahayakan kini telah berhasil ditutup. Namun, beberapa kerusakan ringan di bagian pinggir jalan belum sempat diperbaiki karena keterbatasan material dan dana.
Melalui aksi ini, warga berharap pemerintah dan instansi terkait lebih cepat tanggap terhadap kerusakan infrastruktur, terutama pada jalan provinsi yang menjadi akses utama masyarakat lintas daerah.
“Harapan kami, kalau ada jalan rusak lagi, pemerintah bisa lebih memprioritaskan perbaikannya. Ini jalan provinsi yang dilewati warga dari berbagai daerah. Kalau rusak dan dibiarkan, yang jadi korban masyarakat,” pungkasnya.




