
BLORA – Hujan lebat yang mengguyur wilayah Desa Cabean, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, selama sekitar delapan jam berturut-turut menyebabkan jembatan penghubung antara Desa Cabean dan Desa Bajo, Kecamatan Kedungtuban, ambruk pada Senin (15/6/2026).
Jembatan sepanjang kurang lebih 30 meter yang selama ini menjadi akses utama warga dua desa tersebut runtuh diduga akibat tingginya debit air sungai yang disertai derasnya arus saat hujan mengguyur kawasan tersebut.
Salah seorang warga setempat, Katiro (57), menuturkan bahwa peristiwa ambruknya jembatan terjadi secara tiba-tiba. Warga awalnya hanya mendengar suara gemuruh keras dari arah sungai sebelum mengetahui jembatan telah roboh.
“Sejak malam hujan turun cukup deras selama kurang lebih delapan jam. Debit air sungai meningkat dan arusnya sangat kuat. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah sungai, setelah dicek ternyata jembatan sudah ambruk,” ujarnya kepada awak media.
Sementara itu, Kamituwo Desa Cabean, Toha Maksun (56), mengatakan selain faktor cuaca ekstrem dan derasnya arus sungai, usia jembatan yang sudah cukup tua diduga turut menjadi penyebab keruntuhan.
Menurutnya, jembatan tersebut telah dibangun sejak sekitar tahun 1989 dan kini berusia kurang lebih 37 tahun.
“Kayu-kayu pada konstruksi jembatan banyak yang sudah lapuk. Tiang penyangga juga kemungkinan tidak mampu lagi menahan tekanan arus sungai yang sangat deras. Faktor usia jembatan diduga ikut berkontribusi terhadap ambruknya bangunan ini,” jelasnya.
Ambruknya jembatan berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Selama ini, jembatan tersebut menjadi jalur utama yang dilalui kendaraan roda dua, roda empat, serta para pelajar yang berangkat ke sekolah.
Akibat putusnya akses tersebut, warga kini harus memutar perjalanan hingga sekitar lima kilometer untuk mencapai tujuan.
“Tidak ada jalur alternatif yang memadai. Warga terpaksa memutar cukup jauh untuk beraktivitas,” katanya.
Kondisi ini juga menyulitkan para pelajar. Demi menghindari keterlambatan ke sekolah, sebagian siswa memilih menggunakan jalur darurat yang dibuat secara swadaya oleh warga.
Dengan kondisi ketinggian air sungai yang mencapai lebih dari dua meter, para pelajar harus berhati-hati saat melintas menggunakan jembatan darurat berbahan kayu dan bambu yang dibangun di atas bagian jembatan yang ambruk.
“Anak-anak sekolah terpaksa menggunakan jalan darurat atau mencari jalur lain agar tetap bisa berangkat sekolah. Kalau harus memutar jauh, mereka bisa terlambat,” tambah Toha.
Hingga saat ini, pemerintah desa masih berkoordinasi dengan pihak terkait untuk penanganan lebih lanjut. Warga berharap pembangunan kembali jembatan dapat segera dilakukan mengingat akses tersebut merupakan urat nadi perekonomian dan aktivitas masyarakat di dua desa.
Sementara itu, aparat setempat bersama warga terus melakukan pemantauan di lokasi guna mengantisipasi potensi bahaya bagi pengguna jalan yang melintas di sekitar area jembatan yang ambruk.




