
Manggarai – Suasana Kantor Kelurahan Tenda, Kabupaten Manggarai, pada 8 Agustus 2025 siang terasa berbeda. Para ketua RT, pemilik kos, mahasiswa, tokoh masyarakat, hingga aparat keamanan berkumpul dalam forum silaturahmi membahas isu serius: pencegahan intoleransi, radikalisme, dan terorisme.
Lurah Tenda menekankan realitas pluralitas warganya. Berdasarkan data BPS, Tenda dihuni 3.624 jiwa berbasis KK, ditambah ribuan mahasiswa dan pelajar yang tinggal di lebih dari 4.000 kamar kos. Kondisi ini menjadikan Tenda salah satu kawasan dengan interaksi sosial terpadat di Ruteng.
Paparan dari berbagai pihak menyoroti kerentanan sosial di wilayah ini. Dinas P3A mengingatkan soal pernikahan dini, perilaku berisiko remaja, hingga meningkatnya kasus bunuh diri. Data Dinas Pendidikan menunjukkan 2.468 siswa SMA tinggal di kos, rentan tanpa pengawasan orang tua. Sementara itu, kasus HIV/AIDS terus bertambah, mempertegas lemahnya kontrol sosial.
Densus 88 menyoroti ancaman jaringan terorisme. “Lebih dari 30 orang asal Manggarai pernah terlibat jaringan teror. Ruteng rawan dijadikan ‘save house’. Pemilik kos harus waspada terhadap penyebaran ideologi radikal yang masuk secara diam-diam,” tegas Silvester Guntur.
Para peserta forum menanggapi serius. Ketua RT menekankan pentingnya kolaborasi, pemilik kos mengakui lemahnya pengawasan, sementara tokoh masyarakat mengingatkan potensi anarkisme mahasiswa. Diskusi makin hangat saat lurah menyinggung rencana pendirian pondok pesantren di Tenda, yang langsung dijawab dengan penekanan agar penilaian tidak sekadar berdasarkan penampilan luar, tetapi lebih pada sikap anti-sosial dan kurikulum pengajaran.
Pertemuan yang awalnya formal berubah menjadi ruang refleksi bersama. Kesimpulannya jelas: intoleransi dan radikalisme tidak muncul tiba-tiba, tetapi tumbuh dari ruang sosial yang longgar pengawasannya. Tenda, dengan pluralitas dan ribuan anak kosnya, bisa menjadi benteng toleransi—atau justru pintu masuk bahaya. Semua bergantung pada kewaspadaan masyarakatnya.




