
BLORA – Kekhawatiran warga terhadap kondisi Jembatan Dong Padas di Desa Cabean, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, akhirnya menjadi kenyataan. Jembatan yang hingga kini belum diperbaiki secara tuntas itu memakan korban. Satu keluarga yang mengendarai sepeda motor terjun ke jurang sedalam sekitar empat meter pada Rabu (5/8/2026) sekitar pukul 19.30 WIB.
Korban diketahui bernama Sawi (35), warga Dukuh Djambe, Kelurahan Tambakromo, Kecamatan Cepu. Saat kejadian, ia membonceng istri dan anaknya melintasi Jembatan Dong Padas dari arah Dukuh Djeruk menuju Desa Cabean.

Warga sekitar, Katiran, mengatakan kecelakaan terjadi ketika sepeda motor yang dikendarai korban melintas di atas jembatan yang kondisinya belum layak dilalui.
“Pengendaranya bapak, ibu, dan anak. Saat melintas di Jembatan Dong Padas, mereka tiba-tiba jatuh ke dalam jurang,” ujar Katiran kepada wartawan.
Keterangan senada disampaikan warga lainnya, Sutini. Menurutnya, korban mengaku panik ketika sepeda motor yang dikendarainya tiba-tiba sulit dikendalikan saat memasuki area jembatan.
“Korban bilang motornya mendadak tidak bisa dikendalikan. Warga langsung turun ke jurang untuk menolong,” katanya.

Evakuasi berlangsung sekitar satu jam. Warga bergotong royong mengevakuasi Sawi beserta istri dan anaknya dari dasar jurang sebelum akhirnya ketiganya dilarikan ke RSUD Cepu.
Akibat kejadian tersebut, Sawi dan istrinya mengalami luka-luka, sementara anak mereka mengalami patah kaki. Sepeda motor yang digunakan mengalami kerusakan cukup parah dan baru berhasil diangkat dari dasar jurang pada keesokan harinya.
Saat proses evakuasi kendaraan, hadir perwakilan Dinas Pekerjaan Umum, Teguh Sumaryono, perangkat Desa Cabean, serta warga setempat. Namun, pernyataan yang disampaikan justru memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat.
Perangkat desa menyebut perbaikan jembatan masih dalam proses. Sebagai langkah sementara, lubang di lokasi hanya akan dipasangi bambu dan tanda peringatan.
“Lubang ini nanti dikasih bambu dan tanda supaya pengendara yang belum pernah lewat bisa tahu,” ujar perangkat desa.
Pernyataan tersebut memicu sorotan warga. Pasalnya, kecelakaan telah lebih dahulu terjadi sebelum pengamanan tambahan dipasang. Sejumlah warga mempertanyakan mengapa langkah antisipasi baru dilakukan setelah adanya korban.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa kerusakan infrastruktur bukan sekadar persoalan pembangunan yang tertunda, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat. Ketika akses jalan yang digunakan setiap hari dibiarkan dalam kondisi membahayakan tanpa pengamanan yang memadai, risiko kecelakaan menjadi ancaman nyata bagi setiap pengguna jalan.
Kini, warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait tidak hanya memasang tanda peringatan sementara, tetapi segera menuntaskan perbaikan Jembatan Dong Padas agar tidak kembali memakan korban.





