
Bojonegoro – Memasuki musim penghujan, petani di wilayah selatan Bojonegoro mulai menanam jagung. Meski hujan turun dengan intensitas ringan, lahan pertanian mulai basah.
Selama kemarau kemarin, para petani membersihkan lahan meraka dengan cara membakar rerumputan.
Menurut Arianto, petani asal Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, persiapan lahan untuk menanam jagung tidak membutuhkan pengolahan lahan. Berbeda dengan menanam padi, sebab lahan yang digunakan merupakan bekas tanaman jagung musim sebelumnya.
Pemberian pupuk kandang yang ditaburkan pada lahan membuat lahan yang mulai kering kembali subur. Hujan yang mulai turun pun segera diamanfaatkannya untuk menanam jagung, lantaran lahan mulai ditumbuhi rumput.
“Hujan mulai turun sejak satu bulan terakhir. Namun intensitasnya masih rendah dan diselingi panas. Petani mulai berani berspekulasi menanam jagung dengan harapan hujan akan stabil memasuki awal bulan Oktober” ucapnya.
Arianto menyampaikan bahwa, pemanfaatan musim hujan bagi sebagian lahan sudah memperlihatkan hasil. Sebab sebagian petani sudah menanam sejak pertengahan (September) kemarin dengan tanaman yang mulai tumbuh subur.
Sejumlah petani yang memiliki jagung usia dua pekan, bahkan mulai memasuki masa pemupukan tahap pertama. Hujan yang turun dengan intensitas sedang bisa membuat jagung tumbuh.
Dia pun ingin mengulangi menanam jagung kembali, karena pada tahun lalu hasil panennya maksimal.
“Perawatannya tidak rumit, hanya ketersediaan pupuk kandang atau kompos tidak boleh dilepas. Sebab makanan atau vitamin yang banyak sangat diharapkan untuk bertani jenis tanaman jagung,” terangnya”.
Arianto juga berharap nantinya di musim panen jagung nanti harganya bisa naik. Tidak seperti kemarin, harga jagung relatif murah di kisaran harga Rp 4.500 sampai Rp 4.600.




